Kamis, 28 Oktober 2010

EPISTEMOLOGI


USWATUN CHASANAH {08410043}
PAI B
NO: 7                                                                                                                           
EPISTEMOLOGI
Epistemologi berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti knowledge (pengetahuan) dan logos bararti the study of atau theory of. Secara harfiah, epistemologi berarti study atau teori tenteng pengetahuan. Dalam filsafat epistimologi merupakan cabang dari ilmu filasafat yang membahas asal-usul, struktur, metode-metode dan kebenaran pengetahuan. Atau gampangnya epistesmologi adalah cara mengetahui kebenaran yang ada.
Dan untuk menyatakan suatu kebeneran ilmu pengetahuan itu ada 3:
1.      Rasio
Plato (427-347) sebagai peletak dasar idealism atau rasionalism. Menurutnya hasil pengamatan inderawi tidak memberikan pengetahuan yang kokoh karena sifatnya yang selalu berubah-ubah sehingga tidak dapat di percaya kebenarannya. Ia lebih percaya pada  dunia ide.
2.      empirisme/indera
Aristoteles (384-322) menurutnya manusia memperoleh pengetahuan melalui proses pengamatan inderawi yang panjang yang disebut sebagai proses abstraksi. Walaupun pengmatan inderawi tidak tetap dan tidak kekal tetapi dengan pengamatan secra tetrus menerus terhadap objek yang konkrit akal dapat melepaskan atau mengabstraksikan idenya dari objek tersebut. 
3.      intuisi/firasat
Al ghozali (1059-1111) memang pengetahuan dapat di peroleh mealalui rasio dan inderawi tetapi yang paling tinggi adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kasyf atau intuisi.


Rabu, 27 Oktober 2010

Epistimologi Burhani

Oleh : ambarwati sa’adah
08410073

Al Burhan berarti argumen yang pasti dan jelas. Dalam pengertian yang sempit, burhani adalah aktivitas pikir untuk menetapkan kebenaran pernyataan melalui metode penalaran, yakni dengan mengikatkan pada ikatan yang kuat lagi pasti dengan pernyataan yang lain secara aksiomatik. Jadi model berpikir dengan epistimologi burhani ini adalah dengan memandang sesuatu itu dengan menggunakan nalar sehingga suatu pernyataan itu benar, pasti dan jelas karena berargumen atau mengungkapkan sesuatu itu menggunakan nalar.
Menurut al- Jabiri banyak pemikir muslim, terutama dari dunia islam bagian barat yang telah menerapkan episteme burhani, seperti Ibn Rusyd, al-Syatibi, dan Ibn Khaldun. Ibn Rusyd berusaha menerapkan dasar-dasar episteme burhani dengan cara membela argumen secara kausalitas.
Sedangkan menurut al-jabiri, Ibn Khaldun menerapkan episteme burhani seperti terlihat dalam bukunya al-Muqadimmah. Pertama-tama, Ibn khaldun menyingkap sejumlah tabir yang menyelimuti riwayat hidup para pendahulu. Kemudian, ia menganalisis satu peristiwa ke peristiwa berikutnya dalam setiap babnya dengan tidak lupa menarik kesimpulan dan pelajaran dari setiap kasus dan peristiwa itu. Di sela-sela analisis tersebut, ia juga mengungkapkan seluk beluk, sebab-sebab, dan latar belakang tumbuhnya negara, dan pengelompokkan-pengelompokkan sosial. Di dalam buku tersebut, ia juga menjelaskan secara detail sejumlah fenomena sosial yang dialami oleh kelompok-kelompok sosial dan peradapan tersebut, termasuk yang berkaitan dengan faktor-faktor kejatuhan dan keruntuhan peradaban. Dengan begitu, ia ingin menunjukkan pengetahuan tentang bagaimana Negara-negara dari awal terbentuknya hingga proses kejatuhannya.
Dengan demikian terlihat jelas bahwa Ibn Khaldun berusaha menjadikan sejarah sebagai ilmu burhani. Sejarah yang ditulisnya itu adalah sejarah ilmiah yang berintikan penelitian, penyelidikan, dan analisis yang mendalam akan sebab-sebab dan latar belakang terjadinya sesuatu. Selain itu, sejarah juga berintikan pengetahuan yang akurat tentang asal-usul, perkembangan, serta riwayat hidup dan matinya kisah peradapan manusia.
Akhirnya dari pelacakan terhadap karya-karya al-jabiri dapat ditemukan unsur-unsur pokok dari bayani, irfani dan burhani sebagai berikut. (1) Origin, (2) tools of analysis, (3 approach, (4) metode, (5) fungsi dan peran akal, (6) types of argument, (7) argument, (8) validitas, (9) pendukung keilmuan.

Senin, 25 Oktober 2010

epistimologi bayani

Nama   : Aprilia Intan P.
NIM    : 08410230
Kelas   : PAI-

EPISTIMOLOGI BAYANI
Epistimologi bayani adalah model berpikir yang menggunakan pendekatan dengan menganalisa teks, oleh sebab itu model berpikir ini juga disebut model berpikir linguistik atau tekstual. Obejk dalam epistimologi burhani ini adalah gramatika dan sastra (nahwu dan balagh)., hukum dan teori hukum (fiqh dan usul fiqh), teologi dan ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadits. Epistimologi bayani ini bersifat tradisionalis, naql, syariat, dan normatif. Karena sifatnya yang tekstual maka epistimologi bayani ini digunakan sebagi dasar menentukan hukum. Dalam kaitannya dengan kajian filsafat epistimologi bayani ini berfokus pada rasionalisme yang dipelopori oleh Plato. Rasionalisme yang dimaksud disini adalah segala sesuatu yang ada ditentukan berdasarkan akal, jika sesuatu tersebut sudah tidak diterima oleh akal maka tidak dapat diterima pula oleh epistimologi bayani.
Epistimologi bayani ini dapat dipahami melalu tiga segi atau dimensi yaitu :
a.    Segi aktivitas pengetahuan, bayani artinya tampak menampakkan dan faham memfahamkan
b.    Segi diskurs pengetahuan, bayani berarti pengetahuan dibentuk dari ilmu Arab murni.
c.    Segi pengetahuan, bayani kumpulan dari prinsip-prinsip, konsep-konsep, dan usaha-usaha yang menyebabkan pengetahuan muncul tanpa disadari.